
“Ary Widiartha”, mungkin ini salah satu nama yang sedang hangat di perbincangkan di seluruh bali saat ini. Dia merupakan generasi muda hindu yang kembali terpilih dan dipercayakan sebagai ketua panitia dalam acara Olimpiade Agama Hindu ke-5 tahun 2010. Setelah meraih kesuksesan dalam Olimpiade Agama Hindu 2009 generasi muda kelahiran 21 tahun silam ini semakin memantapkan kaki untuk berkecimpung di dunia organisasi, kini tidak kurang di 40 organisasi namanya telah tercatat sebagai anggota dan pengurus seperti Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD), Paguyuban Teruna Teruni Bali (TTB), Ikatan Putra Putri Kampus Ajeg Bali (PPK) dan masih banyak lagi. Awalnya dia tidak memiliki pikiran akan menyibukkan diri di organisasi karena sebelum manjadi mahasiswa di Universitas mahendradatta dirinya masih tabu dengan organisasi meskipun dulu sempat manjadi pengurus osis semasa bersekolah di SMAN 1 baturiti. Kini setelah dua tahun bergabung di The Hindu Center Of Mahendradatta dia telah sukses memimpin menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti Pesamuan Agung Siswa Hindu, Kongres ADWINDO, Pemilihan Duta Wisata Indonesia dll. Sadar akan dirinya lahir di tengah – tengah keluarga kalangan petani, semakin meningkatkan niatnya untuk semakin berprestasi baik di bidang akademik maupun sosial. Bali hanya akan menjadi sebuah pulau buangan atau pulau pengungsian jika kita tidak bertindak mulai sekarang, dulu tahun 1986 sebelum pariwisata bali berkembang dan sebelum penduduk luar bali datang ke bali pemerintah mencanangkan program transmigrasi gratis ke daerah-daerah transmigran seperti Pulau sulawesi dan Kalimantan, banyak masyarakat bali yang ikut dengan anggapan mencari daerah yang lebih luas untuk melanjutkan hidup bersama dengan keluarga karena tanah yang mereka miliki mungkin hanya cukup untuk saudara mereka. Namun tanpa kita sadari, sekarang pada tahun 2010 lebih dari 1.000.000 orang per tahun datang ke bali untuk mencari pekerjaan dan data BPS menunjukkan sekitar 30% lahan di bali telah dikuasai oleh orang luar bali, apalagi di daerah perkotaan. Bayangkan bagaimana nasib masyarakat asli Bali 10 tahun pendatang. Generasi muda bali dituntut untuk bisa bersaing, untuk bisa bersaing haruslah mengenyam pendidikan yang layak minimal setara S1. Sebagai contoh, lihat saja hotel-hotel dan restaurant di wilayah nusa dua dan kuta, sebagian besar tenaga kasar seperti cleaning serfice dan gardener di isi dengan orang bali, posisi-posisi penting seperti general manager dan directour diisi oleh orang luar bali, untuk itu masyarakat bali mulai saat ini harus sadar kita sudah terdesak, jangan sampai kita menjadi penonton di daerah sendiri, ujar Teruna Bali 2008 ini.

